Ikan Asin atau Grih Sudah Disebutkan di Prasasti Kuno sebagai Menu Makanan

Makanan merupakan kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan akan makanan sudah ada sejak manusia prasejarah. Berbagai makanan juga dibuat oleh orang-orang zaman dahulu. Namun, tahukah Anda bahwa ada makanan olahan kuno yang masih dikonsumsi hingga saat ini?

Salah satu makanan yang telah dibuat oleh manusia sejak zaman prasejarah dan masih dikonsumsi hingga saat ini adalah ikan asin. Masakan ikan merupakan salah satu masakan peninggalan manusia purba, tepat pada zaman Jawa kuno. Dimulai dari berbagai sumber, produksi ikan saat itu masih sangat melimpah.

Untuk mengkonsumsinya, orang zaman dahulu menggunakan cara garam. Cara pengasinan pada olahan ikan bahkan tertulis dalam prasasti kuno pada masa Hindu-Budha dengan menggunakan istilah Sansekerta. Sebelum dimakan, ikan terlebih dahulu dikeringkan dan diasinkan, atau disebut grih dalam bahasa Sansekerta.

Bus sekarang itu menyebut orang Jawa sebagai geh. Sebutan lain dari olahan ikan asin adalah dendeng (deng, atau daing, dalam bahasa Sansekerta). Ikan yang diasinkan antara lain makarel (buatan sendiri), makarel (tangiri), pari (berlayar), gabus, bawal (kadiwas), selar (slar) dan masih banyak lagi.

Dalam prasasti tersebut, tidak jarang ditemukan nama-nama ikan yang tidak diketahui habitatnya, seperti bijanjang, bilunglung, herring, halahala dan kandari. Berawal dari repository.kemdikbud.go.id, banyak prasasti Jawa kuno dari abad ke 7 hingga 14 Masehi yang mencatat menu ikan asin ini sebagai makanan pokok pada masa itu. Beberapa prasasti tersebut antara lain:

Prasasti Pangumulan I (824 Saka / 902 M)
Sebutkan kumpulan ikan asin seperti dendeng, dendeng bawal, tenggiri asin, ikan layar/ikan pari, udang, hala-hala, (dan) telur

Prasasti Watukura I (824 Saka / 902 M)
Sebutkan : ikan kakap kering (den snapper).

Prasasti Rukam (829 Saka/907 M)
Sebutkan kekayaan gizi dendeng, dendeng (dendeng) bawal, (dendeng) duri, dendeng hañaÅ‹, sob, tenggiri, ikan layar/ikan pari, hala hala, udang, ikan gabus kering, dan telur rajungan.

4. Prasasti Waharu I / Prasasti Jenggolo (851 Saka/929 M)
Satuan takaran untuk ikan asin disebut kujur (grih sakujur).

Leave a Reply

Your email address will not be published.